Jumat, 04 Mei 2012

Fakta Tentang Amerika, Iran, dan Israel


Syaikh Athiyatullah al-Libi :

Saya menduga AS memiliki waktu yang cukup leluasa, dan AS tidak tergesa-gesa untuk menyerang Iran, karena AS tengah menghadapi banyak problematika. Selain itu, kondisi nasional, internasional, dan opini umum juga tidak banyak mendukung untuk melakukan serangan saat ini. Saat ini, AS merasa cukup melakukan tekanan-tekanan dan maneuver-manuver, namun saya menduga kuat bahwa AS akan menyerang Iran ketika AS telah merasa yakin bahwa Iran memiliki senjata nuklir. Seperti saya katakan tadi, masih ada waktu yang cukup lama untuk hal ini.

Pertimbangan AS adalah seperti diungkapkan oleh anggota konggres AS, “Tidak ada kebijakan yang lebih buruk daripada menyerang Iran, kecuali ketika Iran telah memiliki senjata nuklir.”

Pernyataan ini menurut saya meringkakan secara cermat kebijakan mereka dalam masalah ini.

Namun dalam hal ini ada sebuah permasalahan yang sangat penting untuk dicermati dan direnungkan, yaitu Iran memiliki kesiapan untuk beraliansi dengan AS dalam suatu fase tertentu.

Maksudnya, bagi Iran tidak ada halangan untuk beraliansi dengan AS ketika Iran melihat kebijakan tersebut sesuai dengan kepentingan Iran, menurut pertimbangan ras dan kelompok Iran. Karena Iran adalah sebuah negara Rafidhah yang rasialis, tegak di atas sebuah agama buatan, agama dalam arti kata golongan, kebangsaan, dan identitas keyakinan. Sebenarnya Iran tidak memiliki agama.

Karena agama yang mereka anut bukanlah agama yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Sebenarnya mereka tidak bertauhid dan tidak beribadah kepada Allah. Sebenarnya mereka tidak memiliki ketaatan apapun kepada Allah. Tidak ada keyakinan mereka kepada akhirat. Hal itu tidak ada, kecuali pada beberapa orang tertentu.

Agama mereka sebenarnya adalah golongan, kami, milik kami, kepentingan kami, Persia, Teluk Persia, imperium Persia, peradaban Persia, keunggulan dan rasialisme yang mereka anut.

Tidak ada keyakinan kepada Allah dan hari akhir pada diri mereka!

Kesimpulannya, negara Rafidhah Iran tidak memiliki halangan apapun jika pada suatu waktu tertentu menjadi sekutu dan kawan dekat AS, jika Iran melihat hal itu akan merealisasikan kepentingan Iran.

Tidak ada halangan agama apapun bagi mereka.

Apa sebenarnya kepentingan Iran?

Kepentingan Iran adalah; kemenangan golongan dan hegemoni terhadap kawasan (Timur Tengah), yang dibangun di atas dasar percampuran antara agama golongan yang telah kita sebutkan tadi dengan rasialisme Persia dan nasionalisme jahiliyah.

Bagaimana terhadap Israel?

Tidak ada masalah apapun. Kenapa Iran dan Israel harus bertikai? Tidak akan ada pertikaian antara keduanya, jika aliansi bisa merealisasikan kepentingan Iran di kawasan tersebut, yang terungkap dalam satu kalimat ringkas; kemenangan atas ahlus sunnah dan menguasai ahlus sunnah! Semoga Allah tidak memberikan mereka kemampuan untuk merealisasikan tujuan jahat tersebut.

Jika kepentingan itu telah diraih oleh Iran, maka setelah itu mau berperang dengan Israel atau tidak berperang, itu bisa-bisa saja, tergantung kondisi mana yang akan menguntungkan bagi Iran.

Toh Israel nun jauh di sana, di Palestina.

Sesungguhnya peperangan Iran dan Rafidhah yang sejati adalah terhadap ahlus sunnah. Kemenangan yang mereka idam-idamkan adalah kemenangan dan hegemoni atas ahlus sunnah, juga membalas dendam atas ahlus sunnah!!

Persengketaan antar Iran dan AS sebenarnya bukanlah masalah agama. Iran dan orang-orang Nasrani dalam beberapa hal merupakan orang-orang yang saling mencintai. Iran dan orang-orang yang murtad dalam beberapa hal merupakan orang-orang yang saling mencintai. Persengketaan Iran dengan AS, dalam bagian terbesarnya, adalah seperti persengketaan umat manusia lainnya, berkisar pada kepentingan, pengaruh, kekuasaan, hegemoni, dominasi, dan syahwat-syahwat lainnya. Wallahu a’lam.

Adapun jika AS benar-benar menyerang Iran, akankah hal itu membawa kebaikan bagi mujahidin? Bagaimana prediksi kita terhadap kemungkinan itu?

Ya, kita berharap hal itu membawa kebaikan bagi mujahidin, secara umum.

Namun memprediksikan perkara seperti itu sulit dilakukan, baik secara perkataan maupun pemikiran. Wallahu a’lam. Segala sesuatu bisa saja terjadi, dan diprediksikan akan terjadi kekacauan dan banyak perubahan besar.

Apapun keadaannya, dalam perkara ini mujahidin tidak mengkhawatirkan apapun. Kami berdoa semoga Allah akhirnya mengaruniakan kemenangan kepada kaum muslimin. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu jadikanlah perkara apapun yang Engkau tetapkan bagi kami berakhir dengan kebaikan. Amiin.





Sumber: Arrahmah.com

0 komentar: